Tuatara adalah reptil unik yang telah merayap di muka bumi selama lebih dari 200 juta tahun. Hewan ini sering disebut sebagai “fosil hidup” karena memiliki karakteristik yang mirip dengan reptil purba yang telah punah. Tuatara merupakan satu-satunya anggota yang masih hidup dari ordo Rhynchocephalia, yang berkerabat dekat dengan ordo Squamata yang mencakup ular dan kadal. Artikel ini akan mengeksplorasi keunikan, habitat, dan tantangan yang dihadapi oleh tuatara dalam upaya pelestarian mereka.

Karakteristik Fisik:
Tuatara memiliki penampilan yang mirip dengan kadal, namun memiliki beberapa ciri khusus yang membedakannya. Mereka memiliki tulang punggung yang menonjol dan sisik yang kasar. Ukuran tubuh tuatara bisa mencapai hingga 80 cm dengan berat sekitar 1,5 kg. Salah satu fitur paling unik dari tuatara adalah “mata ketiga” atau parietal eye, yang terletak di atas kepala mereka dan meskipun tidak berfungsi untuk melihat, organ ini sensitif terhadap perubahan cahaya dan bisa berperan dalam mengatur siklus hormonal mereka.

Habitat dan Distribusi:
Tuatara secara alami hanya ditemukan di Selandia Baru, dan bahkan di sana, mereka terbatas pada beberapa pulau yang terpencil dan beberapa kawasan terlindungi. Mereka memilih habitat dengan suhu yang lebih sejuk dan kelembapan tinggi. Tuatara menghabiskan sebagian besar waktunya di sarang bawah tanah yang mereka gali atau temukan.

Perilaku dan Diet:
Tuatara adalah hewan nokturnal yang cenderung aktif di malam hari. Mereka adalah karnivora yang dietnya terdiri dari serangga, burung kecil, telur, dan invertebrata lainnya. Tuatara memiliki metabolisme yang sangat lambat, yang memungkinkan mereka untuk bertahan dengan sedikit makanan dan jarang minum.

Reproduksi dan Umur Panjang:
Tuatara dikenal karena memiliki siklus reproduksi yang sangat lambat. Mereka baru mencapai kematangan seksual pada usia sekitar 10-20 tahun dan bisa hidup hingga lebih dari 100 tahun. Betina bertelur setiap empat tahun sekali, yang mana telur tersebut membutuhkan waktu lama untuk menetas, terkadang hingga 15 bulan.

Konservasi dan Ancaman:
Tuatara menghadapi ancaman serius dari kehilangan habitat dan predasi oleh hewan yang diperkenalkan seperti tikus dan posum. Upaya konservasi yang intensif, termasuk program pemulihan habitat dan penghapusan predator, telah dilakukan untuk memastikan kelangsungan populasi tuatara.

Kesimpulan:
Tuatara bukan hanya hewan yang menarik secara biologis, tetapi juga simbol dari ketahanan dan adaptasi. Sebagai salah satu bentuk kehidupan tertua yang masih bertahan hingga sekarang, mereka memberi kita wawasan yang berharga tentang sejarah alam dunia. Melalui upaya konservasi yang terus menerus dan penelitian yang mendalam, kita dapat terus mempelajari dan melindungi spesies luar biasa ini untuk generasi yang akan datang.